Mukadimah

Sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang ditunjukan Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat menunjukanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan segenap orang yang mengikutinya.

Amma ba'-du.
Showing posts with label Umum. Show all posts

Dicatat oleh Amik

Sahabatku ... Semoga Engkau Mengetahui Hak-hak Ini

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Sungguh persahabatan merupakan suatu karunia dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah yang artinya,“Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (Ali Imran : 103). Ini adalah nikmat Allah yang sangat agung. Maka seharusnya kita menjaganya dengan memperhatikan hak-hak di antara sahabat. Pembahasan berikut, berisi sebagian hak-hak persahabatan yang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikat tali tersebut.

Bersahabatlah karena Allah

Ingatlah wahai saudaraku -semoga Allah menunujuki kita untuk taat kepada-Nya-, bahawa tujuan kita bersahabat adalah sentiasa untuk mengaharap ridha Allah Ta'ala. Dan janganlah sekali-kali persahabatan tersebut dijadikan untuk mendapatkan kepentingan dunia semata.

Persahabatan yang dilandaskan saling cinta karena Allah itulah yang akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang ertinya,"Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya akan mendapatkan manisnya iman, iaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskan darinya sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api." (HR. Bukhari)

Di samping itu, persahabatan seperti inilah yang akan kekal hingga hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman yang artinya,"Teman-teman akrab pada hari (kiamat) nanti sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."(QS. Az Zukhruf : 67).

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahawa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, sudah benarkah niat kita dalam bersahabat?! Apakah persahabatan tersebut hanya untuk menyelesaikan urusan duniawi semata?!! Setelah urusan tersebut selesai, kita meninggalkan sahabat kita!! Ingatlah, persahabatan yang benar adalah persahabatan yang dilandasi cinta karena Allah, yaitu seseorang mencintai sahabatnya karena tauhid yang dia miliki, pengagungan dia kepada Allah, dan semangatnya dalam mengikuti sunnah Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam.



Berbuat Itsar-lah pada Sahabatmu

Di antara hak terhadap sesama yang dianjurkan adalah mendahulukan sahabatnya dalam segala keperluan (baca : itsar) dan perbuatan ini dianjurkan (mustahab).

Perhatikanlah firman Allah Ta'ala yang artinya,"Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan" (QS. Al Hasyr : 9).

Kaum Ansar yang terlebih dahulu menempati kota Madinah, mereka mendahulukan saudara mereka dari kaum Muhajirin dalam segala keperluan, padahal mereka sendiri membutuhkannya.

Sungguh sangat menakjubkan, seorang sahabat Ansar yang memiliki dua istri ingin menceraikan salah satu istrinya. Kemudian setelah masa 'iddahnya berakhir dia ingin menikahkannya dengan sahabatnya dari kaum muhajirin. Adakah bentuk itsar yang lebih daripada ini?!! (Aysarut Tafaasir, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi)

Perbuatan itsar ini hanya berlaku untuk urusan duniawi (seperti mendahulukan saudara kita dalam makan dan minum). Sedangkan dalam masalah ketaatan (perkara ibadah), perbuatan ini terlarang. Karena maksud dari ibadah adalah pengagungan kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang mendahulukan saudaranya dalam hal ini, berarti dia telah meninggalkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala yang dia sembah. Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan mendahulukan saudara kita (itsar) untuk menempati shaf pertama dalam sholat berjama’ah, sedangkan kita di shaf belakang. (Lihat Al Wajiz fii Iidhohi Qowa’id Al Fiqhi Al Kulliyati)

Bantulah Sahabatmu yang Berada dalam Kesulitan

Misalnya ada saudara kita yang membutuhkan bantuan pinjaman. Maka berusahalah untuk menolongnya dengan memberi pinjaman hutang padanya. Karena pemberian hutang yang pertama kali merupakan kebaikan. Sedangkan pemberian hutang kedua kalinya adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"Barangsiapa yang memberi hutang kepada saudaranya kedua kalinya, maka dia seperti bersedekah padanya.”

Jagalah Kehormatan Sahabatmu

Wahai saudaraku, jagalah kehormatan sahabatmu, karena Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda pada khutbah ketika haji Wada' yang artinya,"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Di antara bentuk menjaga kehormatan saudara kita adalah menjaga rahasianya yang khusus diceritakan pada kita. Rahasia tersebut adalah amanah dan kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga amanah. Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"Apabila seseorang membicarakan sesuatu padamu, kemudian dia menoleh kanan kiri, maka itu adalah amanah."(HR. Abu Daud dalam sunannya). Perbuatan seperti ini saja dilarang, apalagi jika sahabatmu tersebut memintamu untuk tidak menceritakannya pada orang lain. Maka yang demikian jelas lebih terlarang. (Huququl Ukhuwah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh).

Semoga dengan mengamalkan hak-hak ini, kita akan menjadi orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah di akhirat kelak, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Amin.

Belajar Islam | Akhlaq
Ditulis oleh Muhammad Abduh Tuasikal on Rabu, 30 Desember 2009

TIGA LANDASAN UTAMA

Dicatat oleh Amik




Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta berkah atas Rasulullah Nabi-Nya Muhammad saw,keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya.


Kenyataannya ketika saya menunggu umpanan saya dimakan oleh ikan,terlintas dalam fikiran saya tentang amalan bertawakal kepada Allah yang termasuk di antara sebab diturunkannya rezeki. Adanya diantara sahabat yang begitu asyik memikirkan dan berbicara hal-hal yang diluar kawalan kita dengan menunding jari kearah sesuatu atau seseorang sebagai punca kegagalan mendapatkan rezeki yang baik sehingga menimbulkan penghinaan berlaku, malah terbitnya kebencian diantara sahabat yang tidak seharusnya berlaku didalam sistem bermasyarakat. Bertawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal :

Pertama : Yang Dimaksud Bertawakkal Kepada Allah.
Kedua : Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal Kepada Allah Termasuk Diantara Kunci-Kunci Rizki.
Ketiga : Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha ?


Pertama : Yang Dimaksud Bertawakkal Kepada Allah

Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : "Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata". [Ihya' Ulumid Din, 4/259]

Al-Allamah Al-Manawi berkata :"Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali" [Faidhul Qadir, 5/311]

Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : "Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rezeki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah". [Murqatul Mafatih, 9/156]

Kedua :Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha'i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang".[1]

Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rezeki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman.

"Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki0Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". [Ath-Thalaq : 3]

Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi' bin Khutsaim mengatakan : "(Mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia" [Syarhus Sunnah, 14/298]

Ketiga : Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha?

Sebagian orang mungkin ada yang berkata :"Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rezeki, maka kenapa kita harus bersush payah hingga lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rezkei kita datang dari langit ?"

Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rezeki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rezeki dan pulang pada petang hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, peusahaan atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang kepadanya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata : "Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rezeki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rezeki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut". [Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8]

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, 'Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rezekiku datang sendiri'. Maka beliau berkata, 'Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku melalui panahku"

Dan beliau bersabda.

"Artinya : Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rezeki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang".

Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang petang hari dalam rangka mencari rezeki.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. [Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306]

Syaikh Abu Hamid berkata :"Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara pratikal, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti cebisan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu darjat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.?

Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya".

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi :"Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hati itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya" [Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157]

Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

"Artinya : Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ikatlah kemudian bertawakkallah" [2]

Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha'i disebutkan.

"Artinya : Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? 'Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah". [Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368]

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rezeki itu hanyalah dari Dia semata.
Wajib diingat bahawa pergi memancing (berburu) itu diantara beberapa macam permainan dan seni hiburan yang disyariatkan Rasulullah s.a.w, untuk kaum muslimin, guna memberikan kegembiraan dan hiburan mereka. Di mana hiburan itu sendiri dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi ibadah dan melaksanakan kewajiban dan lebih banyak mendatangkan ketangkasan dan keinginan serta suatu latihan yang dapat mendidik kepada manusia yang berjiwa kuat.
Sesungguhnya di antara kunci-kunci rezki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.
[Disalin dari buku Mafatihur Rizq fi Dhau'il Kitab was Sunnah oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan As-Sunah hal. 28 - 35 terbitan Darul haq, penerjemah Ainul Haris Arifin Lc]
_________
Foote Note.
[1] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304; Jami'ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal 'Alallah, no. 2344, no 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya ; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, At-Tawakkul wal Yaqin, no 4216, 2/419; Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, Bab At-Tawakkul wat Tawaddhu' no. 559, hal 196-197 ; Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Wara' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar 'amma Yajibu 'alal Mar'i min Qath'il Qulubi 'anil Khala'iqi bi Jami'il Ala'iqi fi Ahwalihi wa Asbabihi no. 730, 2/509 ; Al-Mustadzrak 'ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318 ; Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala' Allah Haqqa Tawakkulihi no. 1444, 2/319 ; Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaa, Bab At-Tawakkul 'ala Allah 'Aza wa Jalla no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengatahuinya kecuali dari sisi ini (Jami'ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Al-Mustadrak 'ala Ash-Shahihain, 4/318). Imam Al-Baghawi berkata, Ini adalah hadist hasan. (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir. (Lihat, Hamisyul Musnad, 1/234). Serta Syaikh Al-Albani menshahihkannya, [Lihat, Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12]
[2] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Warra' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bin Annal Mar'a Yajibu Alaihi Ma'a Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A'dha Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma'rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, Sanad hadist ini 'jayyid'. (At-Talkhis, 3/623). Al-hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Majmau'z Zawa'id wa Manba'ul Fawa'id, 10/303. Beliau berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa haditsnya adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya'kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah

Ramadhan yang mulia

Dicatat oleh Amik





Hanya kepada Allah saya memohan petunjuk, taufik serta kekuatan untuk selalu menjauhi laranganNya, untuk diri saya sendiri dan untuk segenap umat Islam. Dan mudah-mudahan Dia menjauhkan kita dari hal-hal yang diharamkan serta menjaga kita dari hal-hal yang buruk, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Telah masuk bulan ramadhan yang mulia, dan ini menjadikan kita menghentikan segala aktiviti-aktiviti yang berkaitan denagan memancing dan secara umumnya kita mula menghormati datangnya bulan yang dibarkahi ini. Semua peralatan memancing sudah disimpan kemas sejak pulang dari Pulau Sibu tempohari. Saya sudah mula melupakan cerita pancing dan sudah mula sibuk dengan amalan rukun islam yang ke tiga dan amalan sunat lain yang seiringnya dengan datangnya bulan rahmat ini.

Amat rugi jika tidak membulatkan hati untuk merebut segala yang dibawa bersama datangnya bulan rahmat ini, tidak seperti bulan yang lainnya yang mana kita disibukan dengan segala urusan dunia dan terkadang kata sangat lalai dengan kenikmatan dunia. Dari Abu Hurairah r.a.: Adalah Rasulullah s.a.w. memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda,

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para syaitan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

Dari Ubadah bin AshShamit, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlumba-lumbanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Kerana orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR. Ath-Thabrani, dan para periwayatnya dipercayai).
Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pernah mendengar darinya."
Luar biasa, melihat surau penuh, sampai sebagian jamaah terpaksa sholat di kakilima atau serambi masjid. Suatu pemandangan yang sangat menyejukkan pandangan setiap muslim. Masyarakat begitu patuh mengikuti setiap rangkaian shalat tarawih, dan saya pun tidak ketinggalan,Sungguh mengharukan...

Saya ingin bertanya: Mengapa saya begitu patuh mengikuti shalat tarawih? Apa untungnya dan apa yang saya harapkan darinya?
Jawabannya hanya ada satu, yaitu yang tersurat pada hadits berikut:

"Barang siapa yang mendirikan sholat qiyam (tarawih) pada malam ramadhan karena dorongan iman dan mengharap balasan hanya dari Allah, niscaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosanya yang telah lampau." (Riwayat Muslim)

Akan tetapi, saya teringat keadaan saya pada saat sholat lima waktu, di selain bulan ramadhan. Berapa waktu yang saya mendirikan sholat lima waktu berjama'ah di surau itu?
Kemanakah saya yang selama bulan ramadhan meramaikan surau? Mungkinkah saya telah berhijrah ke negri lain? Atau mungkinkah saya tidak mendengar seruan azan? Ataukah saya mereka risau dikenakan pungutan atau membayar sewa bila mendirikan sholat di surau?

Mungkin saya berkata: "Ah, sholat berjamaah kan hukumnya sunnah, ah saya masih penat dari bekerja..." dan alasan berbagai rupa.

Kemanakah semua alasan ini di bulan ramadhan? Bukankah alasan ini lebih tepat bila saya utarakan tentang sholat tarawih yang hukumnya sunnah, dan berjamaahnya pun sunnah. Andai mereka sholat tarawih atau qiyamul lail di rumah masing-masing di akhir malam tentu itulah yang lebih bagus dan utama.

Saya cuba bertanya kepada iman yang berdiam diri dalam istana sanubari anda: Mengapa semangatmu tidak kunjung berkobar untuk menghantarkan memenuhi panggilan Allah yang dikumandangkan oleh para muazzin?

Pening! Bukankah Tuhan yang saya ibadahi dalam sholat tarawih adalah Tuhan Yang saya Ibadahi dalam shalat fardhu? Mengapa saya berbeza sikap pada keduanya? Bukankah Tuhan Yang saya ibadahi di bulan Ramadhan adalah Tuhan Yang saya ibadahi di bulan-bulan lainnya? Mengapa saya bersikap pilih kasih kepada-Nya?

Apakah dibulan ramadhan saya terbebas dari belenggu setan, sehingga saya merasa ringan untuk memenuhi seruan Allah yang dikumandangkan oleh para muazzin? Sedangkan di selain bulan Ramadhan, belenggu setan begitu kuat melilit saya, sehingga saya tak berdaya melawannya.

Dimana senjata dan luka itu?

"Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang darimu bila ia tidur sebanyak tiga ikatan. Ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata: "malam masih panjang, maka tidurlah." Bila ia terjaga, kemudian ia menyebut nama Allah, terurailah satu ikatan, bila ia berwuduk, terurailah satu ikatan lainnya, dan bila ia mendirikan sholat, terurailah ikatan ketiga, sehingga iapun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik. Bila ia tidak (melakukan ketiga hal itu), maka pada hari itu ia akan berjiwa buruk dan malas." (Muttafaqun 'alaih)

Mungkinkah ini yang tejadi pada diri saya? dan demikian, maka apakah ubatannya.Dari Hadith Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semoga saya dan sahabat-sahabat menjadi para pemakmur masjid-masjid Allah Ta'ala.

"Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. At Taubah: 18)

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Amiin. Dan semoga shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Wallahu a'alam bisshawab.

Rujukan:
1. Artikal nasihat Ramadhan oleh Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A
2. Risalah Ramadhan oleh Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Jaarullah

Ucapan Terima Kasih

Dicatat oleh Amik



Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saya memuji, rukuk dan sujud kepada Allah yang Maha Besar. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Shalawat serta salam kepada Muhammad bin Abdullah, beserta para keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Allah berfirman di dalam Al Qur'an, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Surat 33. AL AHZAB - Ayat 21)
Didalam suatu hadits disebutkan, Rasulullah saw. bersabda: "Ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku." Para sahabat lalu bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah khalifah-khalifahmu?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang datang sesudahku mengulang-ulang pelajaran hadits-hadits dan sunahku dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku. (HR. Ar-Ridha).Dengan selesainya website ini, saya hendak menyampaikan rasa terimakasih kepada:

1.Rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan izin-Nya, saya dapat menyusun website ini, Alhamdulillaahirabbil'alamiin.

2.Rasulullah SAW. "Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah sampaikan shalawat-Mu kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia."

3.Bapa saya, Hj.Sadikin Hj.Ibrahim dan Arwah Ibu saya ,Asiah Hj.Redzuan, Ya Allah berilah ampunan, rahmat, keselamatan, dan kemaafan kepadanya, muliakanlah tempatnya, lapangkanlah tempat masuknya, cucilah ia dengan air, ais dan embun, bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, gantikanlah buatnya rumah yang lebih baik daripada rumahnya dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya, masukkanlah dia dalam syurga, dan peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka).Kedua dua mereka adalah orang yang telah banyak berjasa terhadap saya serta yang telah banyak berbuat baik kepada saya dengan tulus.

4.Perhiasan kesayangan saya yang menyenangkannya bila memandangnya, isteri saya, Ruhana Parmen. Terima kasih atas doa dan dukungan kasih sayangnya berserta kesabarannya. Syukur.

5.Amanat dan harta di tangan saya,nanak-anak saya, Nurin Izzati, Nurin Izzwani, Nurin Insyirah, Muhammad Haziq dan Muhammad Nabigh Terima kasih dengan senyuman dan tingkah laku yang menyenangkan hati. Semoga Allah memuliakan kamu didunia dan akhirat.

5.Para penyusun dan penerbit kitab dan buku yang pernah saya baca. Amat sangat berguna dan bermanfaat untuk saya rujuk, memahami, mendalaminya, mengamalkan dan moga saya dapat mempunyai kekuatan untuk menyampaikannya.

6.Semua guru-guru pendidik dan semua orang yang turut mengasuh saya dan mengajarkan saya berbagai ilmu berguna.

7.Semua saudara mara, sahabat handai dan jiran tetangga yang banyak memahami, menghibur, menyokong, membantu saya serta memaafkan kesalahan saya dan keluarga saya.

8.Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu saya dalam penyelesaian wabsite ini.

wa ba'du

Tanda-Tanda Rahmat yang Berasal dari Lautan

Dicatat oleh Amik


Rahmat-rahmat yang datang dari lautan adalah termasuk kurnian Allah kepada kita. Al-Qur`an menyebutkan beberapa dari itu,

“Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat menemukan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari kurnia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (an-Nahl [16]: 14)

Kita akan menemukan rahmat tak terhitung jumlahnya manakala kita meneliti manfaat-manfaat yang diperoleh manusia dari lautan. Setiap laut adalah habitat alami dari beragam jenis haiwan dan tumbuh-tumbuhan, tergantung pada keadaan mereka masing-masing. Al-Qur`an menyebutkan beberapa dari mereka,

“Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum, dan yang lain masin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut, supaya kamu dapat mencari kurnia-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (Faathir [35]: 12)

Meskipun manusia tidak terlibat di dalamnya, alam bawah laut memiliki tatanan sempurna yang menawarkan banyak manfaat.

Semua ini memungkinkan, berkat sempurnanya ciptaan Allah. Untuk imbalan semua ini, manusia hanya perlu merasa bersyukur kepada Allah.

Makanan dari Laut

Manusia yang tidak sepenuhnya mengetahui sumber khasiat yang mereka perlukan untuk menjaga kesihatan melalui khasiat yang baik, mendapat tawaran banyak sumber khasiat berkadar terbaik dan siap pakai. Seafood memanglah cukup kaya dengan sumber-sumber khasiat pertama, sebab diciptakan untuk memenuhi keperluan tubuh manusia akan vitamin dan mineral. Allah minta kita perhatikan manfaat makanan-makanan semacam itu,

“Dihalalkan bagimu binatang-binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lazat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan….” (al-Maa`idah [5]: 96)

Barangan seafood secara relatif tinggi kandungan mineralnya seperti chromium, cobalt, fosfor, tembaga, iodium, fluorin, dan sodium. Sebagai hasilnya, barangan-barangan ini meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan tubuh, menyeimbangkan tekanan darah, dan mencegah diabetes. Cobalt mencegah anemia, sementara tembaga dan iodium mempercepat penyerapan zat besi agar manusia merasa bersemangat (energetic). Seafood juga memfasilitasi proses mental dan mendorong pertumbuhan kulit sihat, gigi, rambut, dan kuku. Zink, yang kaya jumlahnya dalam makanan laut, adalah elemen penting untuk pertumbuhan badan dan pembangunannya, melindungi kepekaan penciuman dan rasa, ampuh dalam penyembuhan luka, dan mengatur jumlah serapan vitamin A dalam aliran darah. Lebih jauh lagi, ia merupakan bahagian dari insulin, yang mengendalikan keperluan tenaga metabolis.[12] Flourine memperkuat tulang dan membantu otot-otot dan sistem saraf agar berfungsi secara teratur.[13]

Al-Qur`an menyebutkan manfaat lain dari bahan makanan semacam itu dalam surah an-Nahl [16]: 14, “... kamu dapat memakan daging yang segar (ikan)....” Sangat mengejutkan bahawa Allah menyuruh kita memperhatikan “daging segar” dalam ayat ini, sebab, sebagaimana kita tahu, seafood harus dimakan selagi ia masih dalam keadaan segar. Kalau tidak, daging semacam itu akan menyengsarakan badan. Kenyataannya bahawa hanya barangan-barangan seafood yang dijelaskan begitu rupa di dalam Al-Qur`an mungkin menjurus pada fakta ini.

Ikan

Sementara Al-Qur`an bicara soal seafood secara umum, ia pun secara terinci minta perhatian kita pada ikan, sebagaimana diungkapkan dalam kisah Nabi Musa a.s. dan pembantu mudanya; mereka berdua makan ikan selama dalam perjalanan,

“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini. Muridnya menjawab, ‘Tahukah kamu tatkala mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan ....’” (al-Kahfi [18]: 62-63)

Perlu dicatat bahawa untuk perjalanan panjang seperti itu, Nabi Musa a.s. dan anak muda yang mengiringinya memilih ikan untuk makanan mereka. Dalam menceritakan kisah ini kepada orang-orang yang beriman, Allah meminta kita untuk memperhatikan nilai khasiat dari ikan. Dalam meneliti nilai khasiat dari ikan terungkap sejumlah fakta mengejutkan: Ikan kaya dengan kandungan mineral (seperti fosfor, sulfat, dan vanadium) yang meningkatkan pertumbuhan dan pembaikan selaput tubuh, menyembuhkan nyeri persendian, memfasilitasi kesihatan gusi dan gigi, menambah kecantikan dan warna kulit, menolong pemeliharaan kesihatan rambut, dan ampuh melawan infeksi bakteria. Selain itu, ikan juga memainkan peranan mencegah serangan jantung dengan jalan mengatur tingkat kolesterol aliran darah. Dengan memfasilitasi zat kanji dan metabolisme lemak, daging ikan memungkinkan tubuh menjadi lebih energetik dan kuat, dan juga memungkinkan mental memproses agar berfungsi sepatutnya.

Kekurangan vitamin D dan mineral-mineral lain yang terdapat pada ikan boleh mendatangkan penyakit-penyakit kekurangan vitamin seperti sakit gusi, keluhan kelenjar , penyakit lembut, dan bengkok tulang pada anak-anak, dan lain-lain.[14]

Karangan yang Dapat Diperoleh dari Laut

Mutiara adalah salah satu karangan pilihan yang diambil dari laut. Proses pembentukan mutiara cukup menarik juga untuk diketahui: Beragam makhluk laut berdaging lunak tanpa tulang seperti kerang, siput, remis, menjajarkan bahagian dalam tempurung mereka dengan benda-benda mulia warna keputihan yang disebut ‘induknya-mutiara’. Makhluk-makhluk dasar laut ini menggunakan metode seragam dalam menaklukkan partikel (seperti pasir dan biji-bijian) untuk mencegah kerosakan daging di dalam tempurungnya, dan menyemburkan cairan ke sekeliling induk mutiara. Dengan begitu, mulailah pembentukan mutiara. Seperti mutiara, batu-batu mulia yang ditemukan di dasar lautan juga digunakan sebagai barang perhiasan oleh manusia.

Pembentukan mutiara yang sangat menakjubkan itu jelas sekali memperlihatkan kemahatinggian seni Allah, Maha Pencipta. Al-Qur`an menggugah perhatian kita kepada kenyataan bahawa keindahan dan kemolekan secara khusus diciptakan sebagai kurnia untuk manusia beriman,

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (ar-Rahmaan [55]: 19-22)
_____________________________________

Catatan-catatan:

4. Resimli Saglik Ansiklopedisi, ( Illustrated Health Encyclopedia), Bilpa-Inkilap Publishing, vol. 4, p. 476

5. Sabah Gazetesi,(A Turkish Daily Newspaper), 25 December 1997, From Harvard University

6. Ana Britannica Ansiklopedisi, (Britannica Encyclopedia), vol. 8, p. 334